Taylor Swift - Ours.
The stakes are high, the water’s rough
But this love is ours. ♥
Riska mematikan dan menutup laptopnya. Alarm handphone nya berbunyi. Tak terasa sudah pukul empat sore. Ada seulas senyum dibibir Riska. Sore ini waktunya jalan-jalan sore sekaligus makan malam bersama Ardi. Hanya pada Jumat sore, mereka bisa pergi tanpa beban, karena besoknya sudah weekend. Riska dan Ardi lebih suka pergi pada Jumat sore, karena hari sabtu dan minggu adalah hari istirahat bagi mereka berdua. Riska yang sedang menyelesaikan strata satunya dan Ardi yang bekerja sebagai Junior Lawyer di kantor pengacara terkenal di Jakarta itupun sepakat bahwa Jumat sore sepulang kuliah dan kantor adalah waktu yang paling tepat untuk bertemu dan menghabiskan waktu.
Riska menatap wajahnya dicermin. Wajah tirus dan hidung mancung, rambut ikal dan ada beberapa jerawat muncul dipipinya. Riska tersenyum dan terlihat ada lesung pipit di pipi kirinya. Berkali-berkali dalam ribuan hari Riska menatap cermin, wajahnya masih sama. Hanya saja sedikit menua dan terkadang terlihat kusut karena skripsinya tak kunjung usai.
Riska menyudahi ritual “memandangi diri sendiri” dan membuka lemari. Salah satu kegemaran Riska adalah mengkoleksi scarf. Riska memang memiliki leher jenjang dan bagus sekali bila memakai scarf, terlebih scarf bermotif warna-warni. Kali ini Riska menjatuhkan pilihan pada scarf cashmere lembut bermotif abstrak dan berwarna dasar hijau. Cerah sekali, secerah hari ini.
Hampir saja Riska lupa waktu kalau tidak alarm nya berbunyi kembali dan mengingatnya untuk bergegas mandi. Ah, kebiasaan burukku ternyata tak juga berubah, batin Riska geli.
:)
Jakarta pada petang hari. Macet tak terkira, polusi dimana-mana. Tapi semua itu tak terasa ketika berada dimobil berdua dengan kekasih tercinta. Riska dan Ardi terjebak kemacetan panjang dari Mampang. Seperti biasanya, mereka sudah mengantisipasi terjebak macet dengan membawa ‘bekal’. Iya bekal, Riska membawa satu botol Cola dingin, satu bungkus besar keripik dan egg sandwich kesukaan Ardi. Alih-alih menghibur diri, mereka malah mendengarkan musik sambil bercanda dan memakan bekal bawaan Riska. Boleh ditiru kan ide jenius mereka?.
Sekian kali jumat sore, sekian kali menikmati egg sandwich ditengah kemacetan panjang, Riska dan Ardi masih tetap bersama, lima tahun lamanya. Terkadang sesuatu yang monoton dan tak berubah, malah menyenangkan bukan?. Riska selalu memeluk tangan Ardi erat, dan Ardi selalu mencium kening Riska dengan hangat. Selalu, masih sama seperti dulu.
Riska menatap mata Ardi dengan penuh rasa. Yang Riska tau, hanya dibahu Ardi dirinya bisa menyandarkan rindu, bisa menebus jutaan kebahagiaan dan kehangatan tak tergantikan.
:)
Riska berlari sampai menabrak beberapa orang yang lewat di koridor rumah sakit. Nafasnya terengah, kepanikannya memuncak parah. Riska sedang mempersiapkan seminar hasil skripsinya ketika mamanya menelepon dan memberi kabar bahwa kantor Ardi kebakaran dan Ardi terjebak didalamnya, lalu kini koma karena terlalu banyak menghirup asap.
Riska sampai didepan instalasi gawat darurat saat disana ada Milla, teman satu kantor Ardi menunggui diluar. Milla berhasil keluar tapi Ardi yang sudah memiliki riwayat asma langsung melemah ketika pertama menghirup asap dan akhirnya tak sadarkan diri hingga sekarang.
:)
Riska memandang wajahnya dicermin. Pipi tirus, hidung mancung, rambut ikal. Pipi tirusnya kini ada kerutan halus, rambut ikalnya lepek dan tipis, hidung mancungnya tak lagi terlihat semenarik dulu. Dua puluh lima tahun berlalu, Riska masih sama seperti dulu. Tapi kenyataanlah yang berbeda jauh. Sangat jauh. Tak ada lagi jumat sore dengan alarm handphone berbunyi yang mengingatkannya untuk bersiap pergi bersama Ardi. Tak ada lagi scarf warna-warni yang meliliti leher jenjangnya. Tak ada lagi Mama yang membukakannya pintu setelah seharian keluar bersama kekasihnya. Mama sudah meninggal dua tahun lalu, Ardi sudah di Surga jauh sebelum itu.
Riska menunduk dan menitikkan air mata. Dua puluh lima tahun berlalu, namun dirinya masih tertinggal dimasa lalu. Masih tertinggal dimasa dirinya bersama Ardi, masih tertinggal dimasa yang paling Riska ingini. Waktu terus berjalan, dirinya semakin menua dan semakin tak berharga. Ada yang mengoloknya gila, ada yang mencacinya sebagai perawan tua.
Riska masih menganggap hari ini adalah jumat sore. Riska masih berharap Ardi datang dan menjemputnya untuk pergi dan menghabiskan hari. Bagi Riska tak ada yang berubah, tapi waktu telah merubah segalanya menjadi usang dan renta. Tak ada lagi Ardi, tak ada lagi cemilan dimobil sore hari. Semuanya kini hanya seperti mimpi, mimpi yang terus Riska ulang hingga waktu meninggalkannya dalam kenangan.
:)
Kau terbangun dari tidur panjang yang lelahkanmu
Sesali wajahmu merenta kisahmu terlupa
Kau sadari semua yang berjalan tlah tinggalkanmu
Dan tak dapat merangkai semua dekat di khayalmu
Kamu minum espresso aja? gapake gula? kan pahit banget?
ya minumnya sambil liatin kamu biar jadi manis. #dirubungsemut
GABOLEH ADA YANG NIRU POSE NYA, GAK BOLEH! :P